Atur Resiko Trading Dengan Money Management

Dalam sebuah sharing session saya pernah menyampaikan, bahwa ketika orang mulai berjalan memasuki dunia saham mereka ibarat memasuki dunia fantasi, mereka terbuai oleh postingan yang seringkali muncul di dunia maya tentang orang orang  yang memamerkan keuntungan yang besar hasil dari saham, menampilkan foto foto tentang bagaimana enaknya menjadi trader saham bisa tetap menghasilkan uang meski sedang liburan di pinggir pantai sambil telanjang.  Dan sayangnya, postingan postingan seperti itu memang banyak bersliweran di dunia maya sehingga seringkali secara tidak sadar membuat orang orang yang baru akan memasuki dunia saham menciptakan dunia fantasi bagi diri mereka sendiri, yakni fantasi bahwa saham mampu membuat mereka kaya dalam waktu singkat seperti apa yang mereka lihat.

Sayangnya, apa yang mereka temukan ternyata tidak seindah postingan di Instagram. Ketika mereka kemudian benar benar masuk ke dunia saham dan melakukan transaksi jual beli saham, apa yang mereka alami ternyata tidak seperti apa yang selama ini orang orang pamerkan. Dunia saham tidak seindah yang mereka bayangkan, dunia saham tidak semenyenangkan apa yang diposting orang orang. Alih alih mendapatkan keuntungan besar, banyak dari mereka terpuruk dalam kerugian.

Fantasi menjadi kaya dari saham dalam waktu yang singkat membuat mereka menggebu gebu mengejar keuntungan, trading dengan membabi buta, ikut sana ikut sini tanpa menyadari bahwa pada setiap transaksi selalu ada resiko yang siap menghukum mati, ada resiko yang siap memangsa laksana seekor hiu yang siap memaksa hanya dalam satu gigitan saja.

Dan ini banyak terjadi pada trader pemula, sebagaimana Alan Farley pernah berkata “ experienced trader control risk, inexperience trader chase gains”. Trader yang belum punya pengalaman terpaku pada keuntungan dan selalu berusaha mengejar keuntungan yang besar meski belum mempunyai bekal kemampuan trading yang mencukupi dan mendukung hal tersebut. Pada akhirnya yang terjadi adalah sebaliknya, alih alih mendapatkan keuntungan, justru mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia saham adalah dunia yang buas yang sewaktu waktu bisa merampas uang mereka tanpa sisa, mereka terpaksa merasakan pengalaman pahit kehilangan uang dan juga modal yang nyangkut pada saham yang bersandar di harga terendahnya. Tak sedikit yang akhirnya menyerah lalu meninggalkan gelanggang pertempuran, tak sedikit pula yang akhirnya beranggapan bahwa saham adalah hal yang haram dan wajib dihindari karena tak jauh beda dari judi.

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa tujuan utama investasi dalam hal ini investasi saham adalah melindungi modal kita bukan mengejar keuntungan yang besar. Bahkan Warren Buffet selalu bilang the first rule of investing is don’t lose money. The second rule is don’t forget rule number one. Jadi fokus pertama kita adalah berpikir bagaimana caranya agar modal kita tidak berkurang dan kalaupun ada kerugian maka kerugian yang kita derita itu tidak akan menghabiskan modal kita. Oleh karena itu, Money Management menjadi salah satu pilar yang menentukan kesuksesan seorang trader selain Mind dan method.

Yakinlah, bahwa sepintar apapun kita, sejago apapun kita dalam menganalisa pergerakan harga saham, market is always right and always smarter than us. Suatu saat kita pasti akan mengalami kerugian, dan pada saat itu tiba money management yang baik akan bisa menyelamatkan kita. Menurut Alexander Elder, money management mempunyai dua tujuan yakni survival dan prosperity.  Prioritas utama adalah survive dulu, baru kemudian mengumpulkan keuntungan secara konsisten dan pada akhirnya menghasilkan keuntungan yang besar. Seorang trader yang serius dalam menjalankan aktivitas tradingnya akan focus pada minimalisasi besarnya kerugian ketika salah mengambil posisi beli dan harus cutloss serta memaksimalkan keuntungan ketika benar dan pada akhirnya menumbuhkan equity yang dia punya. Ingat, semakin besar kerugian yang kita derita, maka semakin berat perjuangan untuk kembali ke nilai awal sebelum kerugian tersebut karena selalu dibutuhkan kenaikan lebih besar dari besaran kerugian. Misal, jika kita punya modal 100 juta kemudian rugi 20% sehingga uang kita menjadi 80 juta. Maka dibutuhkan kenaikan 25% hanya untuk kembali ke modal awal kita, bayangkan jika kita rugi lebih dalam dari itu, tentu perjuangannya akan jauh lebih berat. Itulah mengapa Money Management menjadi sangat krusial dalam menunjang kesuksesan trading kita.

Trading Journal

Money management yang baik dimulai dari penulisan trading journal yang baik. Sebagai tahap paling awal, tentu saja mencatat berapa besar modal yang kita investasikan ke dalam saham merupakan hal utama yang perlu kita lakukan karena itu adalah modal awal kita. Kemudian, jika memang kita terlalu malas untuk mencatat setiap transaksi trading kita, maka minimal kita mencatat pergerakan equity kita, jumlah cash yang kita punya dan saham apa yang sedang kita pegang dalam portfolio kita beserta harga beli dan harga market saat ini. Jika mencatat pergerakan equity tiap hari masih terlalu berat juga, maka mencatat equity di awal dan akhir bulan merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar untuk bisa menerapkan money management yang baik. Kenapa? Karena equity bulanan inilah yang akan menjadi patokan kita dalam menentukan berapa besaran resiko yang masih bisa kita tanggung dan kapan saatnya kita harus berhenti sementara dari trading ketika kita mengalami kerugian.

Kenapa membuat trading journal dan mencatat equity harian atau bulanan menjadi hal penting? Karena dari sinilah kita bisa memonitor perkembangan trading kita dan mengevaluasi apakah trading kita selama ini sudah benar, apakah strategy yang kita terapkan sudah benar.

Resiko Bisnis dan Loss

Alexander Elder melihat perbedaan antara resiko bisnis dan loss dari besaran kerugian yang dialami terhadap modal trading yang dimiliki, dilihat seberapa besar pengaruh kerugian tersebut terhadap modal trading kita. Kerugian yang merupakan sebuah resiko bisnis sejatinya adalah kerugian dalam jumlah kecil yang merupakan sebuah fluktuasi yang wajar dari bisnis trading yang kita jalani, sedangkan loss adalah kerugian yang besarnya mempengaruhi kelangsungan bisnis kita di dunia saham. Alexander Elder kemudian menetapkan money management rule menjadi dua yakni Rule 2% dan Rule 6%.

Rule 2% dan Position Sizing

Secara singkat Rule 2% adalah aturan yang menyarankan kita untuk membatasi kerugian dari setiap transaksi trading kita maksimal 2% dari modal trading kita atau equity kita yang merupakan total jumlah dari cash on hand dan nilai saham yang kita pegang dalam portfolio. Kombinasi dari Rule 2% dengan trading plan ( entry dan exit ) akan menentukan position sizing kita. Misal modal trading kita 100 juta rupiah, kita ingin membeli saham ICBP di harga 7800 dengan stop loss di 7700. 2% dari 100 juta berarti resiko maksimum kita adalah 2 juta rupiah, karena jarak antara harga beli kita dan stop loss kita cukup ketat yakni hanya 1%, maka secara teori kita bisa menggunakan seluruh modal trading kita untuk membeli saham ICBP atau sekitar 127 lot. Tetapi jika kita merubah salah satu dari dua komponen tadi yakni harga entry maupun stoploss maka besaran lot maksimal yang bisa kita beli juga akan menyesuaikan dengan trading plan tersebut, misal kita melonggarkan stop loss dari 7700 ke 7600 sehingga yang tadinya stoploss kita hanya 1% berubah menjadi 3%. Toleransi resiko kita tetap 2% dari modal atau 2 juta, tapi berhubung titik stoploss kita berubah menjadi 3% di bawah harga beli maka jumlah maksimal lot yang sebaiknya kita beli hanyalah 100 lot bukan lagi 127 lot. Begitu kira kira contoh penerapan rule 2% dalam penentuan position sizing kita. Jadi kombinasi titik entry, titik stoploss  dan rule 2% kita akan menentukan besaran maksimal lot yang bisa kita beli agar resiko trading kita benar benar terukur dan terjaga. Jika ternyata modal 100 juta itu akan kita bagi dan gunakan untuk membeli beberapa saham maka penerapannya juga akan mengikuti aturan aturan tersebut.

Jadi rule 2% itu bukan berarti kita membatasi resiko per trading kita sebesar 2% dari harga beli kita, tetapi rule 2% itu membatasi kerugian kita maksimal 2% dari total modal trading kita. Semakin besar jarak antara harga beli dan titik stoploss kita maka akan semakin kecil jumlah lot maksimal yang kita beli dan sebaliknya, semakin ketat titik stoploss kita dari harga beli kita maka position sizing kita di saham tersebut bisa lebih besar. Penerapan rule 2% dan position sizing yang benar akan menghindarkan kita dari overtrading yakni trading dengan jumlah lot yang melebihi batas maksimal resiko kita sehingga ketika tradingnya salah dan rugi, kerugiannya langsung berpengaruh besar terhadap modal kita.

Rule 6%

Prinsip rule 6% adalah jika pada bulan berjalan akumulasi kerugian kita sudah melebihi 6% dari nilai equity kita atau modal kita bulan lalu maka kita harus berhenti trading untuk sisa bulan berjalan tersebut. Kenapa? karena jika bulan ini kerugian kita sudah mencapai 6% dari nilai equity kita maka kemungkinan besar ada yang salah dengan trading kita, ada yang kurang benar dengan keputusan trading kita dan harus kita evaluasi segera untuk mencari kesalahan tersebut sehingga bulan selanjutnya kita bisa trading dengan lebih baik. Gak perlu balas dendam seperti kebanyakan trader yang menjadi emosional karena kehilangan uang dan akhirnya trading membabi buta karena pengen kerugiannya cepat kembali dan malah pada akhirnya kerugian yang diderita menjadi semakin besar karena tradingnya hanya berdasar emosi tanpa Analisa dan psikologi yang benar.

Jadi sekali lagi, membuat trading jurnal, mencatat nilai equity kita baik harian maupun bulanan merupakan hal yang wajib dilakukan jika kita ingin mempunyai money management yang baik dan ingin trading kita termonitor dengan baik sehingga equity bisa tumbuh dengan baik pula. Seiring dengan pertumbuhan equity kita, semakin besar nilai equity kita di awal atau akhir bulan maka akan semakin besar pula batas maksimal resiko kita yang berarti juga position sizing kita bisa menjadi lebih besar dan jika Analisa kita sesuai pergerakan pasar maka potensi keuntungan juga akan semakin besar. Jika modal awal kita 100 juta dan resiko maksimal per transaksi adalah 2 juta, maka ketika misal bulan bulan berikutnya modal kita sudah tumbuh menjadi 120 juta maka resiko maksimal per transaksi trading kita bukan lagi 2 juta tetapi menjadi 2.4 juta dan begitu seterusnya mengikuti pertumbuhan equity kita.

Begitu kira kira penjelasan money management secara sederhana. Secara singkat langkah langkah yang bisa anda lakukan :

  1. Buat jurnal dan catat pergerakan modal trading atau equity anda pada awal bulan, tiap hari dan akhir bulan
  2. Hitung 2% dari modal trading atau equity anda tadi, ini adalah jumlah kerugian maksimal per transaksi yang bisa anda toleransi
  3. Pada setiap transaksi yang akan anda lakukan, buat trading plan, tentukan titik beli dan titik stop loss lalu hitung jumlah maksimal lot yang bisa anda beli dengan mempertimbangkan toleransi resiko maksimal 2% dari total modal trading anda.
  4. Hitung 6% dari modal trading atau equity anda, ini adalah akumulasi kerugian maksimal yang bisa anda toleransi pada bulan berjalan. Jika kerugian anda pada bulan tersebut sudah melewati angka 6%, sebaiknya anda berhenti trading dulu untuk sementara, tidak mengambil posisi beli baru dan lalu evaluasi transaksi trading yang anda lakukan pada bulan tersebut, cari kesalahan yang perlu diperbaiki yang menyebabkan anda merugi pada bulan tersebut.

Demikian sharing soal money management yang diajarkan oleh Alexander Elder. Tentu saja anda tidak harus mentah mentah mengikuti prinsip money management Alexander Elder ini, silahkan sesuaikan dengan profile resiko anda masing masing. Atau jika memang anda punya prinsip money management yang lebih pas, mungkin bisa berbagi ke saya?

Terima kasih, semoga ada manfaatnya.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

6 Comments

  1. Om Kokolato, kalau misalnya modal 100jt tp mau beli 3 saham, penerapan rule 2% ini bagaimana? Karena kalau titik stop loss kecil, modal yg bisa di pakai dalam 1 trade jadi besar sehingga tidak cukup untuk beli 3 saham.

    Terima Kasih.

    —-

    Jika ternyata modal 100 juta itu akan kita bagi dan gunakan untuk membeli beberapa saham maka penerapannya juga akan mengikuti aturan aturan tersebut.

    1. Mohon koreksi kalau salah, maksudnya gini bukan total risk dari saham yg kita beli maksimum 2% dari modal

      contoh modal 100 jt, saya trade 3 saham dengan masing2 trading plan berikut
      1. Saham A -> stop loss 1 jt
      2. Saham B -> stop loss 500rb
      3. Saham C -> stop loss 500rb

      Sehingga total risk 2 jt (rule 2%)

      Terima kasih

  2. Halo Kokolato, maskud dari “misal kita melonggarkan stop loss dari 7700 ke 7600 sehingga yang tadinya stoploss kita hanya 1% berubah menjadi 3%. Toleransi resiko kita tetap 2% dari modal atau 2 juta, tapi berhubung titik stoploss kita berubah menjadi 3% di bawah harga beli maka jumlah maksimal lot yang sebaiknya kita beli hanyalah 100 lot bukan lagi 127 lot.”

    perhitungannya gimana ya Ko kita naikin stoploss 3% tapi lotnya berkurang 27 lot? Maaf saya kurang mengerti perhitungannya. Terima kasih Ko

    1. Author

      Rule 2% ini kan membatasi kerugian per transaksi kita maksimal 2% dari seluruh modal trading kita. Dalam contoh, modal trading 100 juta sehingga resiko maksimal adalah 2 juta. Jika kita beli di 7800 dan stoploss di 7700, kita bisa beli maksimal 127 lot karena 127 lot dari 7800 turun ke 7700 resikonya adalah 2 juta. Tetapi jika stoploss diturunkan ke 7600 dan lot kita tetap 127 maka kerugian kita jika cutloss di 7600 adalah 2,5 juta, lebih besar dari batas maksimal, makanya lot pembelian kita kurangi menjadi 100 lot saja agar batas kerugian tetap maksimal 2 juta

      1. akhirnya paham, makasih koko! Tuhan memberkati ko

  3. Jumlah lot beli = risiko per transaksi : (harga beli – harga jual) : 100

    Contoh :
    1. setiap transaksi anda rela rugi 1.000.000
    2. Titik beli 1200
    3. Titik stoploss 1000

    Jumlah lot yang boleh dibeli adalah

    = 1.000.000 : (1200-1000) :100
    = 1.000.000 : 200 : 100
    = 50 lot.

    Artinya, jika dalam posisi trading ini anda merugi (menyentuh stoploss) maka anda akan rugi sebatas yang anda bisa toleransi.
    Koreksi kalau hamba yang newbie ini salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *