Mengenal Tipe Trader Di Bursa Indonesia

Tahun ini adalah tahun ketigabelas saya berkarier di bursa saham Indonesia. Dalam perjalanan trading selama 13 tahun tersebut berbagai macam karakter trader sudah pernah saya temui.

Tulisan kali ini akan membahas tipe tipe trader yang ada di bursa saham Indonesia berdasarkan pengalaman saya dan berdasarkan apa yang saya ketahui, silahkan tambahkan jika ada tipe trader lain yang pernah anda temui dan tidak terdapat dalam list yang saya tuliskan di sini. Dan mohon koreksinya jika ada kekeliruan dalam tulisan ini.

Kita mulai dengan membahas tipe trader dilihat dari jenis akun dan kekuatan modalnya. Dari dua hal ini, maka trader di bursa Indonesia bisa dikategorikan ke dalam beberapa kategori yakni :

Trader retail

Trader retail adalah trader individu yang melakukan transaksi jual beli saham atas nama pribadi. Akunnya adalah akun perseorangan, dananya berasal dari dana pribadi, bisa dari uang THR, gaji yang disisihkan, uang SPP atau bahkan jatah bulanan dari sugar daddy. Lalu, berdasarkan kekuatan modalnya, berdasarkan besar kecilnya dana di akun mereka, trader retail sendiri bisa dikategorikan lagi menjadi dua sub kategori, yakni trader teri dan trader paus.

Trader Teri

Secara mudah trader kelas teri itu trader yang modal tradingnya tidak bisa menggerakkan harga saham, tidak berpengaruh banyak terhadap pergerakan harga sebuah saham. Oke lah, mungkin jika mereka bersatu, mereka ada peluang untuk menggerakan harga saham yang nilainya di bawah 5 Milyar, tapi secara umum, trader kelas teri ini biasanya hanyalah pengikut pasar, bukan penggerak pasar, mereka hanyalah participant, bukan bandar. Saya, anda, teman teman anda, dan jamaah Yuk Nabung saham semuanya bisa dikategorikan ke dalam trader retail kelas teri. Apalagi yang portfolionya kayak supermarket yang isinya lebih dari 30 saham tapi masing masing Cuma 1 lot, itu mah teri banget. Trader teri ini juga seringkali menjadi mangsa dari trader paus.

Trader Paus

Berbeda dengan trader teri yang kadang beli saham cuma 1 lot, trader paus ini punya kemampuan untuk menggerakan harga sebuah saham karena mempunyai kekuatan modal yang cukup besar. Tentu saja saham yang digerakkan bukan saham saham LQ45 atau saham dengan kapitalisasi pasar yang besar. Saham yang bisa digerakkan umumnya adalah saham saham second liner dan saham gorengan. Mereka bisa bekerja secara sendiri atau juga bisa bekerja secara kelompok dalam sebuah konsorsium. Beberapa dari mereka mungkin dikenal sebagai grup dari daerah tertentu di Indonesia dan sebagian dari kita mungkin memanggil mereka dengan sebutan bandar atau market maker.

Trader Institusi

Trader institusi adalah trader yang melakukan transaksi jual beli saham atas nama institusi ataupun atas nama grup tertentu. Akunnya merupakan akun institusi atau perusahaan berbadan hukum. Fund Manager Reksadana, Dana pensiun, Taspen, koperasi ataupun Asuransi masuk ke dalam kategori trader institusi. Kemampuan mereka untuk memanipulasi pergerakan harga saham tidak usah diragukan lagi. Mereka punya dana yang cukup besar yang mereka kelola untuk mendukung hal ini. Semua saham di bursa pada umumnya bisa dipengaruhi gerakannya oleh trader institusi ini, mulai dari BBRI hingga INAF semuanya bisa mereka gerakkan. Kadang mereka tidak secara sengaja menggerakan harga sebuah saham, Cuma karena size beli mereka yang sangat besar terutama di saham dengan market cap yang relative kecil atau sedang membuat harga saham bergerak dengan sendirinya. Mereka lah the real bandar di bursa, the real market maker. Tentu saja pilihan saham yang akan mereka beli tergantung pada kebijakan masing masing perusahaan serta time horizon investasi mereka. Beberapa institusi sangat ketat dalam memilih saham yang akan mereka beli, mereka memiliki komite investasi yang akan memutuskan saham apa saja yang mereka beli. Dan jangan bayangkan seperti kita yang kalau mau beli saham antri di bid atau makan kanan di satu harga tertentu ya. Ada beberapa metode pembelian trader institusi ini, bisa memakai harga maksimal tertentu, jadi misal mereka beli saham A dengan maksimal harga B, maka broker pelaksana instruksi ini akan menjalankan order sesuai permintaan mereka, atau bisa juga menerapkan harga rata rata, misal beli Saham A sebanyak 500 ribu lot di harga rata rata B, maka broker pelaksana bisa saja membeli saham di harga B,C, D selama pada akhirnya terkumpul sebanyak 500 ribu lot di harga B. Nah enaknya jadi broker institusi juga gitu, mereka bisa nebeng belanjaan institusi..hehe.

Sama seperti trader retail, trader institusi ini juga bisa dibagi menjadi dua sub kategori berdasarkan asal dana dan perusahaannya, ada institusi local seperti reksadana, dapen, atau taspen yang sering dikenal dengan sebutan Aseng oleh trader kita, ada juga institusi yang berasal dari luar Indonesia dengan mata uang asing yang disebut sebagai investor asing.

Kemudian jika kita melihat gaya trading dan timeframe tradingnya maka trader di bursa bisa dikategorikan ke beberapa tipe trader.

Scalper

Scalper, tukang copet, the flash apapun sebutannya tipe trader ini adalah trader yang melakukan transaksi beli dan jual saham dalam timeframe yang sangat pendek dan umumnya tidak menyimpan saham di akhir hari. Mereka memanfaatkan volatilitas dan range pergerakan harga untuk menghasilkan keuntungan. Mereka seringkali loncat dari satu saham ke saham yang lain atau bisa juga melakukan transaksi beberapa saham secara bersamaan dalam satu rentang waktu tertentu. Persentase keuntungan tiap transaksinya umumnya tidak besar meski tidak menutup kemungkinan pada waktu tertentu seorang scalper bisa mendapatkan keuntungan maksimal di saham yang auto reject atas. Yang mereka cari adalah akumulasi keuntungan dari beberapa transaksi yang mereka lakukan dalam satu hari tersebut. Dari sisi waktu, scalper ini seringkali tidak perlu untuk duduk seharian monitor pergerakan pasar, kadang hanya perlu waktu 30 menit hingga 1 jam untuk menyelesaikan target profit hari itu. Enaknya lagi, mereka terhindar dari resiko floating loss karena mereka selalu clear posisi di hari tersebut.

Day trader

Day trader sebenarnya mirip dengan scalper, hanya beda di timeframe saja di mana seorang day trader umumnya menerapkan timeframe yang lebih lama dari seorang scalper. Seorang day trader tidak akan buru buru melepas sahamnya ketika sudah mendapatkan keuntungan dan akan menunggu hingga muncul sinyal jual di hari tersebut. Bisa jadi, dalam satu hari seorang day trader hanya melakukan satu kali transaksi di sebuah saham dengan memaksimalkan seluruh modal yang dia miliki. Sebagaimana seorang scalper, day trader umumnya juga tidak akan menyimpan saham dalam portfolionya.

Swing trader

Seperti namanya, seorang swing trader memanfaatkan ayunan pergerakan harga sebuah saham. Pada dasarnya seorang swing trader adalah seorang trend follower, mereka akan menyimpan sahamnya selama belum ada sinyal perubahan trend. Umumnya mereka akan bermain di secondary trend dan minor trend dengan timeframe di atas 1 minggu. Pendekatan paling simple untuk jadi swing trader adalah dengan menggunakan indikator moving average atau dengan mengidentifikasi titik support dan resistance.

Selain tipe trader di atas, saya juga menemukan beberapa tipe trader lainnya yang cukup menarik.

Dividen Hunter

Seringkali memang, ketika sebuah saham mengumumkan rencana pembagian dividen dan dividennya cukup besar maka market dan pelaku pasar akan bereaksi positif lalu membeli saham tersebut sehingga harga sahamnya akan naik sampai dengan hari pencatatan siapa saja yang berhak mendapatkan dividen tersebut. Kebanyakan dari kita bukanlah murni dividen hunter, dalam artian dalam kegiatan trading sehari hari kita sudah mengadopsi tipe trading scalper, day trader atau swing trader dan kita memanfaatkan momen kenaikan harga menjelang pembagian dividen untuk meraih keuntungan dan menjual pada hari pencatatan. Kita tidak mendapat dividen tetapi mendapat capital gain.

Tapi, tahukah anda bahwa ada trader yang murni dividen hunter? Dalam satu tahun mereka hanya bertransaksi di moment moment pembagian dividen saja. Mereka akan mempertimbangkan dividen payout ratio, dividen yieldnya dan potensi penurunan harga setelah cum date sebagai alasan mereka membeli saham tersebut, jika dividen yieldnya menurut mereka cukup besar, maka mereka akan membeli saham tersebut untuk mendapatkan dividen dengan resiko yang sudah mereka pahami yakni harga sahamnya turun setelah cum date. Bagi mereka, trading di saham yang membagikan dividen dengan dividen yield yang besar lebih menarik daripada menaruh uang mereka di deposito.

Seasonal Trader

Seasonal trader adalah trader yang hanya akan trading di waktu waktu tertentu saja. Umumnya waktu yang mereka manfaatkan adalah waktu waktu penyampaian laporan keuangan dari emiten yang terdaftar di bursa. Jadi dalam satu tahun, mereka hanya akan trading di bulan bulan release laporan keuangan sedangkan di bulan lain mereka tidak akan bertransaksi di bursa. Biasanya mereka sudah tahu pada tiap kuarter saham apa saja yang mampu memberikan keuntungan yang signifikan bagi mereka karena mereka selalu memonitor perkembangan laporan keuangan perusahaannya dan melihat history laporan keuangan dari tahun ke tahun.

Momentum Trader

Saya beberapa kali bertemu dengan trader yang selalu mengambil peluang di saat market sedang berantakan. Umumnya mereka baru akan masuk ke pasar ketika indeks sudah turun sangat dalam dan harga saham saham bluechip berguguran seperti sekarang ini. Target utama mereka adalah saham saham dengan fundamental bagus yang harganya terpaksa turun karena kondisi pasar yang tidak kondusif dan harga saat ini sudah lebih murah dari harga tertinggi sebelumnya. Ketika mereka menemukan saham saham tersebut, mereka akan memindahkan dana yang selama ini standby di deposito atau tabungan untuk mereka belikan saham dengan fundamental bagus tersebut. Memang tidak tiap tahun mereka akan menemukan momen di mana mereka bisa mendapatkan saham bagus dengan harga murah, tapi umumnya ketika mereka mendapatkan momen tersebut mereka akan memperoleh keuntungan dalam jumlah besar.

Trader Kompor

Mungkin kita semua menemukan bahwa akhir akhir ini ada beberapa trader yang masuk ke dalam kategori trader kompor, yakni trader yang merekomendasikan beli saham tertentu lalu kemudian justru dia melakukan aksi jual di saham tersebut. Ngompori sahamnya agar bisa naik agar dia bisa jualan dengan harga yang lebih bagus. Jika kita menemukan trader kompor seperti ini ada dua hal yang bisa kita lakukan, pertama, ikutan nebeng memanfaatkan momen kenaikan untuk scalping dan memperoleh keuntungan instan atau yang kedua sama sekali menjauhi setiap saham yang direkomendasikan karena tahu bahwa itu hanya digunakan untuk jualan.

Trader ngaku investor

Niat awalnya adalah trading di BBRI tapi ketika harga saham BBRI turun dia tidak berani cutloss hingga akhirnya nyangkut dengan floating loss di atas 40%. Setelah ini terjadi dia meyakinkan dirinya bahwa BBRI adalah saham dengan fundamental yang bagus dan masih aman untuk disimpan meskipun sudah minus 40% karena suatu saat harganya akan balik lagi ke harga belinya, toh tiap tahun juga masih akan dapat dividen. Kira kira begitulah seorang trader yang ngaku sebagai investor, dia terpaksa melabeli dirinya sendiri dengan label investor karena dia sudah kadung nyangkut terlalu dalam di saham yang dia beli. Saya penasaran dengan trader yang ngaku investor di REAL, kalimat kalimat apa yang dia utarakan untuk meyakinkan dirinya untuk terus menyimpan saham REAL, kesempatan untuk dapat rumah mungkin ya?

Itulah beberapa tipe trader yang saya ketahui yang ada di bursa saham Indonesia. Seperti ungkapan, Tak kenal maka tak cuan, semoga pengenalan singkat mengenai tipe trader yang ada di bursa bisa menambah wawasan teman teman semua untuk kemudian direfleksikan ke dalam diri sendiri kira kira tipe trader mana yang cocok untuk diterapkan sebagai style trading, tipe trader mana yang harus dikenali dan pahami sehingga bisa memberikan keuntungan serta tipe trader mana yang sebaiknya dihindari agar terbebas dari kerugian.

Semoga bermanfaat!!

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

3 Comments


  1. Saya ingin belajar dunia trading, bisa bantu informasi broker yang terpercaya. Terimakasih

    1. Author

      Mirrae bagus, Sucor invest bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *