PlayerUnknown’s BattleGround – PUBG

Sebagai warga negara yang baik, saya mengikuti anjuran pemerintah untuk #dirumahsaja, kebetulan perusahaan tempat saya bekerja juga menerapkan kebijakan #workfromhome, jadi klop, saya tidak perlu keluar rumah kemana mana. Untuk mengantisipasi kebosanan dan sebagai salah satu cara saya untuk menikmati kebijakan #dirumahsaja dan #workfromhome, saya membuat cek list dan target pribadi tentang kegiatan apa saja yang akan saya lakukan, dan skill baru apa yang ingin saya pelajari untuk mengisi waktu hingga nanti pandemi corona selesai dan saya bisa beraktifitas normal seperti sediakala. Cek list dan target pribadi saya bervariasi, dari membaca buku yang sudah lama saya beli tapi belum pernah saya baca sama sekali, belajar cara bikin dalgona coffee yang lagi ngetrend, hingga hal hal yang terkesan remeh tapi menurut saya menyenangkan yakni bermain game. Saat ini ada dua game yang sedang saya pelajari dan saya mainkan, yakni Call of Duty Warzone di PS4 dan PlayerUnknown’s BattleGround (PUBG) di handphone. Iya, saya mungkin ketinggalan jaman untuk urusan PUBG ini, di saat orang orang sudah memainkan game ini dari dua tahun lalu, saya baru mulai memainkan game ini minggu ini. Mungkin ini salah satu efek dari kebijakan #dirumahsaja, ketika orang orang sudah mulai bosan karena gak bisa keluar rumah, salah satu kegiatannya adalah belanja online sehingga pengeluaran untuk belanja onlinenya meningkat, termasuk saya yang kemudian iseng beli handphone buat main game dan install PUBG. Tapi gak papa lah itung itung merealisasikan cuan TELE untuk beli ERAA, hehe.

Awal saya main game PUBG lebih banyak trial dan error, hanya bermain tanpa tahu bagaimana memainkan game tersebut secara baik dan benar, tidak punya strategy, bermain membabi buta, tembak sana tembak sini, ambil peralatan apa saja yang ada di depan mata. Memang, beberapa kali saya menang, tapi lebih sering saya kalah dalam permainan tersebut, bahkan kadang kekalahan terjadi pada saat awal permainan, baru mendarat dari pesawat, eh udah ditembak mati, hahaha. Menyenangkan si main PUBG ini, Cuma kalo diteruskan bermain tanpa tahu cara main yang benar ya level saya tidak akan meningkat, hanya akan di situ situ saja. Bermain hanya sekedar bermain tanpa tahu tujuan permainan itu apa. Saya kemudian mencari tahu di internet mengenai tips and trick bermain game tersebut. Apa itu game PUBG, bagaimana cara main yang benar, apa yang harus dilakukan, bagaimana mempertahankan diri dsb. Belajar secara otodidak membantu untuk memahami apa itu game PUBG, bahkan saya sampai menonton channel channel youtube yang membahas PUBG dan menampilkan permainan PUBG dari para pemain yang professional. Hal tersebut cukup membantu saya memahami permainan PUBG tetapi tidak cukup membantu untuk menguasai hal hal praktis yang harus dilakukan di dalam game tersebut. Tadinya saya pikir game PUBG adalah seperti game Call of Duty atau Battlefield di mana kita menjalankan sebuah misi, ternyata saya baru paham bahwa game PUBG adalah game soal survival, dalam satu permainan akan ada sekitar 100 pemain yang diterjunkan dari satu pesawat ke sebuah pulau, sebuah arena pertempuran lalu bertempur dengan pemain lain hingga tersisa kita sendiri atau anggota tim kita. Winner Winner Chicken Dinner, begitulah pesan ketika kita memenangkan permainan tersebut.

Perubahan cukup besar terjadi dua hari terakhir, winning rate saya semakin meningkat, dan level saya pun pelan pelan mulai merangkat naik. Tahu kenapa? Karena dua hari terakhir saya didampingi anak saya ketika saya bermain game PUBG…hahahahaha. Anak saya yang baru kelas 4 SD ngajarin gimana main game PUBG, di lokasi mana saya sebaiknya mendarat setelah terjun dari pesawat, item apa saja yang harus saya prioritaskan untuk diambil, model senapan seperti apa yang sebaiknya saya ambil dan perlengkapan apa saja yang cocok dengan persenjataan saya. Secara tidak langsung, anak saya merubah mindset saya mengenai game PUBG ini, saya yang tadinya cuma memainkan game PUBG dengan sentuh sana sentuh sini, tembak sana tembak sini, kini tanpa tujuan yang jelas kini berusaha menerapkan strategy bermain yang tepat karena memang hakikat game PUBG ini adalah game strategy perang.

Anak saya juga menyarankan agar saya membuat clan atau bergabung dengan sebuah Clan ataupun Crew. Dia sendiri sudah punya Clan yang terdiri dari teman teman sekolahnya, pantesan aja kalau sedang bermain PUBG dia sering bicara sendiri, ternyata dia sedang berkomunikasi dan mengatur strategy dengan anggota timnya agar bisa memenangkan permainan. Tentu saja semakin sering mereka bermain bersama, persentase kemungkinan menang mereka menjadi lebih besar karena sudah mengenal kemampuan dan karakter masing masing. Interaksi dan komunikasi dengan anggota tim menjadi salah satu faktor penunjang dalam memainkan game PUBG ini.

Game PUBG ini di satu sisi mengingatkan saya akan perjalanan karir trading saya. Awal mengenal dunia saham dulu, saya belajar secara otodidak dengan banyak membaca artikel artikel di internet dan juga membeli buku buku yang menjelaskan mengenai mekanisme serta seluk beluk dunia saham. Hasilnya, satu hari cuan, hari berikutnya mengalami kerugian berkepanjangan. Saya tidak bilang bahwa proses ini salah, tidak sama sekali. Saya justru menganjurkan bahwa setiap orang yang mau terjun ke dunia saham harus punya dasar pemahaman mengenai dunia saham dengan cara membaca artikel artikel di internet maupun buku buku trading yang sekarang banyak bermunculan di pasar. Hanya saja, saya mau mengingatkan bahwa mengetahui teori mengenai saham, mengenai pasar modal saja tidaklah cukup untuk menjejakkan kaki di dunia pasar modal. Meski artikel artikel ataupun buku tersebut ditulis oleh orang yang selama ini menggeluti dunia saham, berisi hal hal praktis mengenai trading saham, menurut saya tetap tidak cukup untuk memperkokoh pondasi trading kita. Dan itu juga yang terjadi di masa masa awal saya bermain PUBG, belajar teori dan tips and trick bermain PUBG dari internet maupun youtube tetapi tetap tidak mengalami perkembangan yang berarti. Jika situasi ini berlanjut mungkin saya tidak akan bisa menikmati game PUBG dan tinggal masalah waktu hingga kemudian saya bosan bermain karena tidak ada peningkatan level dan akhirnya memutuskan untuk berhenti bermain PUBG. Berapa banyak trader yang akhirnya memutuskan untuk berhenti menggeluti saham karena dia merasa sudah belajar mengenai saham, ikut kelas pasar modal, paham teori trading, merasa sudah bisa trading tetapi tetap saja tidak berhasil meraih keuntungan dari aktivitas trading yang dia lakukan dan malah semakin lama modalnya semakin berkurang.

Membentuk sebuah tim, clan ataupun crew dalam PUBG adalah layaknya kita bergabung ke dalam sebuah grup diskusi saham. Di era messenger yang saat ini sudah sangat menjamur seperti whatsapp dan telegram tentu saja membuat interaksi antar anggota grup saham akan semakin dinamis dan cepat. Dulu, ketika awal saya terjun ke dunia saham dan mengalami banyak kerugian, saya mulai mencari cari training saham, mulai bergabung dengan mailing list saham yang ada. Dulu, mailing list merupakan sarana utama dalam berinteraksi sesama trader, aplikasi messenger maupun grup saham belum sebanyak seperti saat ini. Dari training dan ikut milist kemudian saya mengenal beberapa orang trader yang cukup menonjol di milist tersebut, dari situ kemudian beralih ke kopi darat, bertemu dan berdiskusi secara langsung. Dan dari interaksi langsung secara rutin itulah kemudian saya merasakan manfaat yang tidak saya dapatkan dari baca buku maupun baca artikel di internet yakni mentoring. Seperti layaknya anak saya yang menjadi mentor saya dalam bermain PUBG.

Mentoring bukanlah training, dalam training kita seringkali hanya mendapatkan kulitnya saja, hal hal yang sifatnya lebih umum dan interaksinya seringkali terbatas. Dalam mentoring, kita mendapatkan sesuatu yang sifatnya lebih personal, lebih detail, lebih praktis, tidak hanya aplikasi teori, tetapi juga strategi praktis yang selama ini sudah dipraktekkan dan terbukti berhasil. Interaksinya juga lebih intense, lebih kepada sesuatu yang sifatnya solutif dan bukan normatif. Dua hari yang lalu saya masih kekeuh berpikiran bahwa saya harus sebanyak banyaknya mengambil perlengkapan yang ada di hadapan saya, tetapi pada kenyataannya tidak semua item yang saya ambil itu bisa saya gunakan dan hanya menjadi barang tak berguna di backpack saya sehingga saya tidak bisa mengambil item lain yang sebenarnya lebih berguna. Pada prakteknya, ada fungsi auto looting yang secara otomatis akan membantu kita mengambil item item yang penting dalam permainan. Sebelumnya saya juga cenderung lebih santai ketika terjun dari pesawat, menikmati pemandangan ketika di atas udara layaknya orang yang lagi liburan dan mendarat di lokasi yang seringkali jauh dari mana mana. Oleh anak saya, saya diberitahu bahwa kecepatan kita mendarat dan lokasi di mana kita mendarat itu merupakan sesuatu hal yang penting, karena semakin cepat kita mendarat semakin cepat pula kita akan mendapatkan senjata untuk membunuh pemain lain, terlebih jika kita memilih lokasi pendaratan yang terdapat banyak item senjata, meski tentu saja resikonya banyak pemain yang mendarat di lokasi yang sama. Tentu saja, tiap mentor akan berbeda penyampaiannya, tiap mentor akan mempunyai sudut pandang yang berbeda. Hal ini wajar karena memang mereka bicara berdasarkan pengalaman mereka, bicara berdasar apa yang sudah sukses mereka lakukan. Dan tentu saja, kesuksesan masing masing orang akan berbeda cara meraihnya. Kalo saya si, saat ini percaya anak saya sebagai mentor saya, karena saat ini level dia sudah platinum, jauh di atas saya yang baru level silver.

Dalam sebuah training saham, mungkin kita akan diajari bagaimana mencari titik support dan resistance, bagaimana cara untuk menyeleksi saham dan memilih saham yang akan kita tradingkan. Dalam mentoring kita akan juga menerima hal yang sama tetapi pembahasannya akan jauh lebih mendetail, akan banyak what if scenario, bagaimana jika ternyata begini, bagaimana jika bandarnya begitu dan sebagainya.

Lalu siapakah yang akan menjadi mentor trading kita?? Seorang mentor tidak selalu harus seseorang yang sudah sangat terkenal, sudah sangat jago, bisa jadi dia adalah trainer dari training saham yang pernah kita ikuti, atau bisa jadi dia adalah orang yang kita kenal di sebuah mailing list, training saham atau grup telegram. Mentor kita tidak harus sekelas Warren Buffet atau trader top dunia lainnya, tapi setidaknya mentor kita adalah seseorang yang lebih dahulu merasakan pahit manisnya trading saham dan sudah berhasil meraih kesuksesan di dalam tradingnya, tidak harus selevel warren buffet. Mentor saya dalam PUBG saja hanya anak saya, bukan pemain PUBG professional di Indonesia apalagi dunia, tetapi bagi saya sudah sangat cukup karena saya melihat prestasi bermain dia dan level kesuksesan di PUBG yang sudah dia torehkan sampai dengan saat ini.

Salah satu fitur yang saya sukai dalam PUBG adalah ketika kita sudah terbunuh, kita masih bisa mengikuti permainan dari sudut pandang pemain lain. Dan ini biasanya saya manfaatkan untuk belajar bagaimana pemain lain menyerang dan bertahan. Ini sama aja kayak kita bertemu dengan mentor kita dan kemudian mentor tersebut bercerita mengenai bagaimana dia memperoleh cuan dari trading saham tertentu, bagaimana dia mengatur posisi entry dia, bagaimana dia mengatur besaran lot yang dia ambil, dan bagaimana dia mengatur posisi jual dia. Bagaimana dia memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mendulang keuntungan. Real time practice.

Oh ya, enaknya kalo kita bermain sebagai satu team dalam PUBG, ketika kita tertembak oleh pemain lain, kita masih bisa punya kesempatan untuk diselamatkan oleh anggota tim yang lain, tentu saja kalo anggota tim tersebut berada di dekat kita. Makanya jika kita bermain dalam satu tim, umumnya mereka akan mengatur posisi bermain yang berdekatan dan lalu bergerak bersama. Sama kayak kita berbagi stockpick terus trading saham yang sama kali ya? Cobalah anda dan teman-teman dalam grup saham anda, mencari saham-saham bagus yang value transaksinya kecil. Hal yang bisa anda lakukan adalah mengatur strategy bagaimana caranya agar penunggu saham tersebut mau tidak mau setidaknya menggerakkan saham tersebut, entah ke atas, entah ke bawah. Coba atur posisi di antara anggota grup saham, siapa bid di harga berapa dan berapa lot, siapa yang harus bertindak sebagai penjaga bid, dan siapa yang bertugas untuk hajar kanan sampai beberapa lantai…coba saja dan anda akan merasakan kesenangan lain dalam trading saham..hehe.

Tulisan ini mungkin agak panjang, tetapi inti yang mau saya sampaikan adalah bahwa untuk sukses dalam dunia saham, tidak cukup hanya membaca artikel di internet, baca buku trading ataupun ikut training. Untuk bisa sukses, kita harus punya mentor yang akan membimbing trading kita, yang akan dengan suka rela membagi kisah tragis dia agar kita bisa mengambil pelajaran dan terhindar dari kesalahan yang dia perbuat, membagi kisah sukses dia yang bisa kita tiru sekaligus menjadikannya sebagai motivasi kita.  Dan proses mentoring tersebut akan lebih efektif ketika terbentuk dalam sebuah grup saham kecil dengan anggota yang tidak begitu banyak layaknya anggota tim PUBG.

Winner Winner Chicken Dinner..

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *